Rabu, 12 Oktober 2016

KARANGAN FIKSI : "USAI"

NAMA       : MURDILAWATI
NIM            : D1B016055
KELAS       : E (AGRIBISNIS)
DOSEN      : SHINTA ANGGREANY SP.,M.Si

“USAI”
Ketukan pintu dipagi hari membuatku harus berjalan kuyu menuju pintu. Ku intip sedikit dari balik jendela,  lalu ku buka lebar-lebar daun pintu rumahku. Ternyata pemuda dari kamar sebelah ; rapi, wangi segar, jelas-jelas habis mandi. Dia tertawa melihat mata sembabku. Mata yang kupaksakan menonton serial drama yang ku anggap tidak ada duanya.
“Begadang lagi ya? Lagian nonton drama sampai segitunya. Cepat mandi gih, kalo kesiangan nanti cuacanya keburu panas.” Ia meracau.
Setengah jam kemudian, kami sudah berada di dalam mobil safari tua milik saudaranya yang “disewa”. Mobil safari tua tersebut bergerak pelan menuju arah pantai. Pantai yang sudah kami impikan dan kami bayangkan sejak lama untuk dikunjungi bersama. Dan tepat pada hari ini, takdir berkata iya untuk aku dan Ade.
Menjelang sampai di pantai yang kami tuju, hujan malah turun tak terkira-kira. Ade menepikan mobil, lalu bergegas lari mengajakku menuju warung jagung bakar yang letaknya tak jauh dari mobil kami. Aku dan Ade duduk merapat, saling berbagi bagian bangku yang kering. Dalam penerangan yang redup, dengan curi-curi pandang kuarahkan mataku padanya. Dia mengunyah jagung bakar yang dipesannya, kepalanya bergoyang-goyang menandakan bahwa dia senang.
Hatiku pilu, berteriak sendiri. Heiiiiii!!!!! Kenapa kau bisa begitu senang? Apakah karena setelah ini takkan ada yang melarangmu makan sup berlemak?.
Ade adalah tipe lelaki dari planet lain, tidak romantis, tidak keren tapi tidak juga cuek bebek.
Ade sadar kalau sedaritadi aku memperhatikannya, keningnya berkerut dan ia pun berhenti mengunyah. “Ayo dimakan jagungnya,mumpung masih panas”, dengan polos disodorkannya jagung yang berada di depannya. Jadi, dia pikir aku ngiler melihat jagung yang dia makan? Bodoh. Dasar bodoh.
Hujan berhenti, namun gerimis masih menari. Aku dan Ade sepakat untuk melanjutkan perjalanan. Kamipun menuju mobil dan ternyata didalamnya basah kuyup. Sial, jadi kubantai habis mengomel tak tentu arah. “Harusnya tadi atapnya di cek dulu masih berfungsi atau tidak, atau setidaknya kita bisa berantisipasi untuk membawa pakaian ganti” cercah ku sepanjang perjalanan.
Tapi tiba-tiba, aku terpaksa bungkam. Dihadapanku muncul pemandangan nan rupawan. Pantai sehabis hujan dengan gelombang besar yang mengahantam karang lalu dihiasi pelangi tipis yang muncul secara perlahan.
 “Seharusnya sampai besok pagi, sampai minggu depan, sampai lima puluh tahun kemudian, cerita kita harus tetap kita perjuangkan.” Ade menatap pelangi, sorot matanya yang riang berganti sedih.
“Kita nggak bisa. Karena untuk berjuang perlu dua orang.” Aku berkeras walau suaraku sudah terdengar parau. Ada yang tercekat di tenggorokkan.
“Memang siapa yang nggak mau berjuang?” tanya nya.
“Bukan nggak mau De, tapi aku nggak bisa” aku pun menjawab.
“kenapa nggak bisa?” Ade kembali bertanya.
“karena mimpi kita berbeda” Jawab ku lirih.
Jika aku tetap bersamanya, urusanku dan dia akan dicampuri oleh keluarga besarnya. Kami akan tinggal dirumah yang besar, ikut peraturan dan pantangan yang cenderung tradisional. Sementara, selama ini aku mengimpikan keluarga kecil yang mandiri dan belajar hidup sendiri.
“Masa sih? Bukannya yang kita tuju sama?” dia mendebat.
Ya, tapi definisi bahagia Ade adalah seorang istri yang mengungguinya pulang kerja, mengambilkan piring dan nasinya, serta membenarkan dasinya. Bukan seorang istri yang mengejar deadline dan pulang hampir larut.
“Kita akan bahagia” Aku tersenyum memberi jaminan kepada lelaki yang berhasil membuatku jatuh cinta. “Kita akan bahagia kalau kita menjadi teman saja”. Kesimpulan akhirku. “Dan mengejar mimpi kita bersama orang yang bermimpi sama. Supaya pada akhirnya nggak ada yang harus mengalah dan merasa tersakiti.” Lanjutku yang membuat hati ini sesak. Namun dia membalasnya dengan sebuah anggukan mencoba untuk memahami.
Lalu tiba-tiba dia melotot lucu “tapi kamu harus janji nggak boleh nonton drama sampai pagi lagi”
“Dan kamu juga harus janji nggak boleh makan sup berlemak lagi.” Aku menghardiknya dengan airmata yang leleh tak terbendung lagi sejak tadi.
Ade menirukan tangisku yang sudah meleleh dan dia membanyol lagi. Akhirnya kujambak rambut jingkraknya, tanpa penyesalan apa-apa kami selesai.


1 komentar:

  1. cerita yang simpel dan menggelitik, ringkas dan sarat makna, akan lebih baik jika latar belakang dipertegas dan dibuat kesimpulan yang mengarah pada nasehat di ending cerita. semagat menulis

    BalasHapus