NAMA : MURDILAWATI
NIM : D1B016055
KELAS : E (AGRIBISNIS)
DOSEN : SHINTA ANGGREANY SP.,M.Si
“USAI”
Ketukan
pintu dipagi hari membuatku harus berjalan kuyu menuju pintu. Ku intip sedikit
dari balik jendela, lalu ku buka
lebar-lebar daun pintu rumahku. Ternyata pemuda dari kamar sebelah ; rapi,
wangi segar, jelas-jelas habis mandi. Dia tertawa melihat mata sembabku. Mata
yang kupaksakan menonton serial drama yang ku anggap tidak ada duanya.
“Begadang
lagi ya? Lagian nonton drama sampai segitunya. Cepat mandi gih, kalo kesiangan
nanti cuacanya keburu panas.” Ia meracau.
Setengah
jam kemudian, kami sudah berada di dalam mobil safari tua milik saudaranya yang
“disewa”. Mobil safari tua tersebut bergerak pelan menuju arah pantai. Pantai
yang sudah kami impikan dan kami bayangkan sejak lama untuk dikunjungi bersama.
Dan tepat pada hari ini, takdir berkata iya untuk aku dan Ade.
Menjelang
sampai di pantai yang kami tuju, hujan malah turun tak terkira-kira. Ade menepikan mobil, lalu bergegas lari mengajakku menuju warung jagung bakar yang
letaknya tak jauh dari mobil kami. Aku dan Ade duduk merapat, saling berbagi
bagian bangku yang kering. Dalam penerangan yang redup, dengan curi-curi
pandang kuarahkan mataku padanya. Dia mengunyah jagung bakar yang dipesannya,
kepalanya bergoyang-goyang menandakan bahwa dia senang.
Hatiku
pilu, berteriak sendiri. Heiiiiii!!!!! Kenapa kau bisa begitu senang? Apakah
karena setelah ini takkan ada yang melarangmu makan sup berlemak?.
Ade adalah tipe lelaki dari planet lain, tidak romantis, tidak keren tapi tidak
juga cuek bebek.
Ade sadar kalau sedaritadi aku memperhatikannya, keningnya berkerut dan ia pun
berhenti mengunyah. “Ayo dimakan jagungnya,mumpung masih panas”, dengan polos
disodorkannya jagung yang berada di depannya. Jadi, dia pikir aku ngiler
melihat jagung yang dia makan? Bodoh. Dasar bodoh.
Hujan
berhenti, namun gerimis masih menari. Aku dan Ade sepakat untuk melanjutkan
perjalanan. Kamipun menuju mobil dan ternyata didalamnya basah kuyup. Sial,
jadi kubantai habis mengomel tak tentu arah. “Harusnya tadi atapnya di cek dulu
masih berfungsi atau tidak, atau setidaknya kita bisa berantisipasi untuk
membawa pakaian ganti” cercah ku sepanjang perjalanan.
Tapi
tiba-tiba, aku terpaksa bungkam. Dihadapanku muncul pemandangan nan rupawan.
Pantai sehabis hujan dengan gelombang besar yang mengahantam karang lalu
dihiasi pelangi tipis yang muncul secara perlahan.
“Seharusnya sampai besok pagi, sampai minggu
depan, sampai lima puluh tahun kemudian, cerita kita harus tetap kita
perjuangkan.” Ade menatap pelangi, sorot matanya yang riang berganti sedih.
“Kita
nggak bisa. Karena untuk berjuang perlu dua orang.” Aku berkeras walau suaraku
sudah terdengar parau. Ada yang tercekat di tenggorokkan.
“Memang
siapa yang nggak mau berjuang?” tanya nya.
“Bukan
nggak mau De, tapi aku nggak bisa” aku pun menjawab.
“kenapa
nggak bisa?” Ade kembali bertanya.
“karena
mimpi kita berbeda” Jawab ku lirih.
Jika
aku tetap bersamanya, urusanku dan dia akan dicampuri oleh keluarga besarnya.
Kami akan tinggal dirumah yang besar, ikut peraturan dan pantangan yang
cenderung tradisional. Sementara, selama ini aku mengimpikan keluarga kecil
yang mandiri dan belajar hidup sendiri.
“Masa
sih? Bukannya yang kita tuju sama?” dia mendebat.
Ya,
tapi definisi bahagia Ade adalah seorang istri yang mengungguinya pulang
kerja, mengambilkan piring dan nasinya, serta membenarkan dasinya. Bukan
seorang istri yang mengejar deadline
dan pulang hampir larut.
“Kita
akan bahagia” Aku tersenyum memberi jaminan kepada lelaki yang berhasil membuatku
jatuh cinta. “Kita akan bahagia kalau kita menjadi teman saja”. Kesimpulan
akhirku. “Dan mengejar mimpi kita bersama orang yang bermimpi sama. Supaya pada
akhirnya nggak ada yang harus mengalah dan merasa tersakiti.” Lanjutku yang
membuat hati ini sesak. Namun dia membalasnya dengan sebuah anggukan mencoba
untuk memahami.
Lalu
tiba-tiba dia melotot lucu “tapi kamu harus janji nggak boleh nonton drama
sampai pagi lagi”
“Dan
kamu juga harus janji nggak boleh makan sup berlemak lagi.” Aku menghardiknya
dengan airmata yang leleh tak terbendung lagi sejak tadi.
Ade menirukan tangisku yang sudah meleleh dan dia membanyol lagi. Akhirnya kujambak
rambut jingkraknya, tanpa penyesalan apa-apa kami selesai.
cerita yang simpel dan menggelitik, ringkas dan sarat makna, akan lebih baik jika latar belakang dipertegas dan dibuat kesimpulan yang mengarah pada nasehat di ending cerita. semagat menulis
BalasHapus